Seseringnya Luka Akan Tetap Termaafkan
Bahkan aku telah berkali-kali jatuh hanya untuk mencintaimu
Pagi ini tepat pukul 05.00 aku terbangun. Ku intip dari balik selimut, diluar jendela tak tampak matahari yang bersinar, hujan tak menemani debu-debu di jalan dan tak ada nyanyian angin besar yang menggoyangkan ranting-ranting kecil. Ku tarik selimut sambil meringkukan badan sebelum kau menguasai pikiran ku - padahal mimpiku sudah kau kuasai sejak kemarin lusa, kemarin, kemarin kemarin, kemarin dan kemarinnya hingga tak terhitung seberapa kemarin yang telah ku habiskan - membuat semua berulang-ulang. Sambil memejamkan mata ku tarik nafas, sekelibat timbul pertanyaan, tidak cukup kah semalam suntuk air mata membasahi raut wajah ku
Waktu enggan bergulir. Meluruskan kaki kanan maupun kiri dan menekuknya kembali tak terhitung jumlahnya hanya karena aku tak ingin keluar dari balik selimut yang telah ku jadikan tempat persembunyian pagi ini. Hebat sekali waktu, suhu dan masa selalu tertuju pada mu. Apa yang dapat aku lakukan jika semua kuasa adalah kamu? - TIDAK ADA - dengan begitu semua tetap sama.
15 menit berlalu bagai semusim di negara tropis. Ku buka selimut dan bangun dari satu-satunya tempat paling nyaman untuk menghadirkan mu. Bimbang selalu menemani jika semua sudah begini, hanya untuk menentukan segelas air atau secangkir kopi sama sulitnya dengan menentukan hadir dan pergi dari bayang mu. Bercermin saja. Aku si gadis yang duduk di depan cermin kusam - mungkin sudah setahun tak ku bersihkan - yang seharusnya sudah ku ganti sebelum mengakhiri dengan mu. Setelah ku pandangi lagi, sepertinya wajahku yang terlalu muram, kantung mata yang menggantung - indah? jelas tidak! - ditambah dua mata sayup yang habis membaca kenangan lalu.
Dering telpon tak sontak membuat ku sadarkan diri. Dengan menghela nafas perlahan, tangan kanan ku meraih telpon. “ternyata aku benar-benar tak dapat melepaskan ego ku dan aku tak siap jika harus berada di sisi mu” suara yang terdengar dari balik telpon itu, tepat sekali, tak berbeda dari suara yang membuat ku bergetar. Kamu yang memutuskan pergi sebelum memulainya dan aku yang tetap berangan semua mimpi semalam. Untung saja tak ada kata maaf yang terlontar, karena aku tak mungkin tak memaafkan mu meski dengan semua kata manis yang berubah menjadi sepahit itu.
Bogor, 05 Oktober 2017
Novitri
Komentar