Bintangku, apa kabar? Aku tak mampu membunuh waktu, aku tak mampu melewati setiap senja yang datang dari balik bukit berbatu itu. Aku masih terisak dibawah pohon tak berbuah yang mengalunkan perihnya pada setiap hembusan angin. Bintangku, aku menatap langit luas itu jauh lebih lama, disana tertulis kelabu hanya akan membuatku lebih menyedihkan, namun disana tak tertulis jalan mana yang harus ku tempuh untuk sampai melihat mu. Bulan selalu mengalah agar tidak terlihat lebih bersinar karena ia tahu yang selalu terlihat bersinar di mata ku hanyalah dirimu, ia pasti ingin terlihat bersinar, namun tidak di mata ku, rasanya pasti menyakitkan disaat kamu ingin terlihat bersinar bagi seseorang namun hanya orang lain yang ada di matanya. Aku dan bulan selalu berada di tempat yang sama namun yang kami lihat berbeda. Tak semua rasa sepi dapat diuntai dengan indah kedalam sajak malam. Jakarta, 31 Maret 2018 Novitri
Komentar