Cerpen

Natal ke 17

Ga banyak orang yang bisa melupakan hari ulang tahun mereka, termasuk aku! Saat hari ulang tahunku tiba, aku tahu orang tua, kakak dan teman-temanku akan memberikan ucapan manis dan hadiah kecil, benar saja, semua itu terjadi! satu hari ini aku dilimpahkan banyak kasih sayang dari mereka. Kini usiaku 17 tahun, sudah cukup untuk merasakan cinta. Menurutku!
"Senvi, ayo makan" segera ku letakkan buku dan pena ke dalam laci "iya.." teriakku sambil berlari ke ruang makan "ayo cepat duduk nanti nasinya dingin" ucap kakakku "kak!" tiba-tiba aku berhenti makan dan memandangnya "hmm" kakak ku hanya bergumam dan tetap melanjutkan makannya "pagi ini aku ikut denganmu ya?" pintaku, "tidak bisa, kamu lupa aku ini Reno, calon penyanyi terkenal, terlalu sibuk untuk mengajakmu bermain di tempatku latihan", "tapi aku ingin ikut" bisik ku, Reno berhenti makan dan menatapku "apa sangat merindukannya hingga kamu memaksa untuk tetap ikut?" mendengar perkataan itu aku pun menjadi bingung "hah?" dan Reno pun menatapku dengan serius "apa kamu sangat merindukan Virgo?", dengan wajah yang sedikit panik aku menjawabnya "tidak!, memangnya dia siapa ku?" aku mulai mengecilkan suaraku "hingga aku merindukannya". Suasana menjadi hening hingga akhirnya "baiklah kamu boleh ikut, sudah cepat habiskan makananmu", tanpa aku sadari setelah mendengar ucapan itu aku tersenyum "iya" jawabku dan dengan lahap aku menghabiskan makananku.

***

Reno menyuruhku menunggu diruang gantinya, aku merasa bosan karena sudah satu jam kulewati sendiri, akhirnya kuputuskan untuk  melihat-lihat keadaan disekitarku. Tempat ini cukup besar, aku berusaha melihat setiap sudut ruangan dan aku berhenti berjalan ketika melihat Virgo yang sedang berlatih, aku benar-benar terpaku melihat Virgo berlatih, dia sangat keren, aku yakin jika ia terus berlatih suatu saat nanti dia akan menjadi penyanyi yang sukses dan jika aku menjadi pacarnya... "Senvi, sedang apa disana? sini masuk jangan hanya melihat dari depan pintu" suara itu menghancurkan semua khayalanku hingga membuaatku menoleh pada seorang laki-laki yang berdiri disebelah kiri Virgo "ah tidak usah, aku hanya melihat-lihat kok, nanti malah mengganggu kalian berlatih" teriakku, "kami sudah selesai berlatih, ayo masuk" jawab pria itu tapi aku menggelengkan kepala, "masuklah" Virgo memintaku, entah kenapa aku tidak menolaknya dan langsung masuk. Hal bodoh apa ini? otakku berkata jangan masuk tapi kakiku terus berjalan, benar saja aku melihat pemandangan yang tidak aku sukai. Virgo menghampiri seorang wanita cantik dan mereka bercanda serta tertawa bersama-sama, aku tidak suka melihat mereka akrab, entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat Virgo tersenyum manis. "Senvi, ternyata kamu disini, aku mencarimu dari tadi, kenapa tidak menjawab teleponku?", Reno menghampiriku, ternyata benar dia meneleponku. Yaampun.. aku tidak merasa HP ku bergetar sejak tadi "maaf kak" "sudahlah ayo pulang" "iya" "semuanya, kami pulang duluan ya, maaf sudah merepotkan kalian" pamit kakak, lagi-lagi laki-laki itu berteriak, kali ini ke kakakku "jangan lupa datang ke acara natal dan ajak Senvi", "baik" jawab Reno sambilo berjalan.

***

Malam natal yang indah! itulah yang sedang kupikirkan, dari balkon ini aku dapat melihat langit cerah yang berhiaskan bulan dan bintang, kakak sedang sibuk berpesta bersama teman-temannya. "sedang apa diluar?" suara itu terdengar jelas dari sampingku "Virgo.. aku pikir siapa, mengagetkanku saja, emm.. hanya menghilangkan rasa bosan melihat keramaian didalam, apa lagi banyak yang tidak aku kenal, seharusnya aku tidak datang tapi aku sangat ingin melihatmu". Yaampun apa yang baru saja aku katakan? aku langsung menutup mulutku dengan kedua tangan tapi semua itu sudah terlambat karena Virgo telah mendengarnya "apa yang baru saja aku dengar ini ungkapan bahwa kamu menyukaiku?" ia tersenyum tetapi tidak sedikitpun melihat wajahku, aku hanya mampu meliriknya tanpa sedikitpun memalingkan wajah karena aku tidak sanggup menyangkal perasaanku. "jangan mengatakan hal itu pada laki-laki lain" Virgo tersenyum pahit "memang apa yang kamu ketahui tentangku? bagaimana mungkin kamu menyebut ini cinta? bahkan hal sederhana dari diriku pun kamu tidak mengetahuinya, apa kamu tidak malu mengatakan itu padaku?" untuk pertama kalinya aku mendengar Virgo mengucapkan kaliamat yang begitu panjang padaku, tanpa aku sadari air mataku hampir terjatuh "kata siapa aku tidak mengenalmu?" tiba-tiba kata-kata itu terlontar dari bibirku. "baiklah, siapa nama lengkapku? apa yang aku sukai dan apa yang tidak ku sukai?", aku terdiam dan baru kusadari aku memang tidak mengenalnya dan air mataku jatuh "aku memang tidak mengenalmu tapi setidaknya aku mengenal diriku, aku yakin pria sepertimu jangankan mengenal orang lain, mengenal dirimu saja tidak bisa, sungguh pria yang dingin" aku menghapus air mata dan berusaha melangkah pergi, "aku mengenalmu" kata-kata itu membuatku berhenti melangkah. "aku mengenalmu Senvi, pertama kali aku melihatmu saat kamu mengantarkan bekal untuk Reno ke tempat latihan tapi kamu tidak melihatku" ternyata tanpa ku ketahui ia telah memperhatikanku. Virgo bukanlah pria dingin yang jahat, ia hanya sulit mengungkapkan isi hatinya. "Senvi, jangan pergi tetaplah disisiku dan jangan lelah berdiri disampingku". Aku menatapnya sambil tersenyum "aku senang kamu mengatakan itu, aku akan tetap disisimu, aku berjanji".
Kini Virgo adalah pacarku.

The End
By Novitri 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batasan

Aku Pun Merindu

Hujan Ku